Wednesday, October 24, 2018

Memahami Konsep Iso



Memahami Konsep ISO


Secara definisi ISO adalah ukuran tingkat sensifitas sensor kamera terhadap cahaya. Semakin tinggi setting ISO kita maka semakin sensitif sensor terhada cahaya.
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang setting ISO di kamera kita (ASA dalam kasus fotografi film), coba bayangkan mengenai sebuah komunitas lebah.
  • Sebuah ISO adalah sebuah lebah pekerja. Jika kamera saya set di ISO 100, artinya saya memiliki 100 lebah pekerja.
  • Dan jika kamera saya set di ISO 200 artinya saya memiliki 200 lebah pekerja.
Tugas setiap lebah pekerja adalah memungut cahaya yang masuk melalui lensa kamera dan membuat gambar. Jika kita menggunakan lensa identik dan aperture sama-sama kita set di f/3.5 namun saya set ISO di 200 sementara anda 100 (bayangkan lagi tentang lebah pekerja), maka gambar punya siapakah yang akan lebih cepat selesai?

Secara garis besar:
  • Saat kita menambah setting ISO dari 100 ke 200 (dalam aperture yang selalu konstan – kita kunci aperture di f/3.5 atau melalui mode Aperture Priority – A atau Av), kita mempersingkat waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan sebuah foto di sensor kamera kita sampai separuhnya (2 kali lebih cepat), dari shutter speed 1/125 ke 1/250 detik.
  • Saat kita menambah lagi ISO ke 400, kita memangkas waktu pembuatan foto sampai separuhnya lagi: 1/500 detik.
  • Setiap kali mempersingkat waktu esksposur sebanyak separuh, kita namakan menaikkan esksposur sebesar 1 stop.
Anda bisa mencoba pengertian ini dalam kasus aperture, cobalah set shutter speed kita selalu konstan pada 1/125 (atau melalui mode Shutter Priority – S atau Tv), dan ubah-ubahlah setting ISO anda dalam kelipatan 2; missal dari 100 ke 200 ke 400 …dst, lihatlah perubahan besaran aperture anda.

Konsep Exposure


Setelah membeli kamera DSLR, Mirrorless atau bahkan kamera point & shoot, kita terpaku pada mode auto untuk waktu yang cukup lama. Mode auto memang paling mudah dan cepat bagi mereka yang baru pertama memegang kamera “serius”. Namun mode Auto tidak memberi keleluasaan bagi fotografer yang ingin membuat foto yang lebih kreatif

Jadi apa itu eksposure/exposure dalam fotografi

sebuah foto adalah “rekaman” cahaya. Eksposure pada intinya adalah jumlah cahaya yang diterima sensor digital di dalam kamera yang kemudian diproses dalam bentuk file foto. Sensor ini sebenarnya menerima pantulan cahaya yang jatuh di obyek foto yang masuk ke lensa.

Kalau kita memotret di dalam kamar dan hasil foto terasa lebih gelap dari seharusnya kita menyebutnya under-exposed, berarti sensor menerima jumlah cahaya yang kurang. Sbeliknya kadang kita memotret dan hasilnya lebih terang dari yang seharusnya, dalam fotografi disebut sebagai over-exposed. Sensor terlalu banyak menerima cahaya.
Foto yang bagaimana yang eksposure-nya pas? sebenarnya tidak ada patokan eksposure yang pas, semua tergantung selera dan kemauan fotografer. Saat kita ingin memotret foto high-key untuk memberi kesan cerah dan bersih seperti foto di bawah ini, kita membuat kamera memotret over, sensor menerima cahaya lebih dari seharusnya. Dan itu oke-oke saja, tidak ada yang salah.

Sebaliknya kadang kita ingin membuat foto under exposed untuk memberi mood dan pesan yang berbeda. Misalnya foto sunset seperti ini, dimana sensor menerima jumlah cahaya yang kurang sehingga kita mendapatkan profil dan wajah orang yang gelap gulita namun langit terlihat indah.

Segitiga Fotografi, Segitiga Eksposure
Fotografer kenamaan, Bryan Peterson dalam bukunya Understanding Exposure menerangkan konsep eskposure dalam fotografi secara mudah. Peterson memberi ilustrasi tentang tiga elemen yang harus diketahui untuk memahami eksposur, dia menamai hubungan ketiganya sebagai sebuah Segitiga Fotografi. Setiap elemen dalam segitiga fotografi ini berhubungan dengan cahaya, bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan kamera.

Ketiga elemen tersebut adalah:

1.     ISO – ukuran seberapa sensitif sensor kamera terhadap cahaya

2.     Aperture – seberapa besar lensa terbuka saat foto diambil

3.     Shutter Speed – rentang waktu “jendela’ didepan sensor kamera terbuka
Interaksi ketiga elemen inilah yang disebut eksposur.  Perubahan dalam salah satu elemen akan mengakibatkan perubahan dalam elemen lainnya.

Perumpamaan Segitiga Eksposur
Mungkin jalan yang paling mudah dalam memahami eksposur adalah dengan memberikan sebuah perumpamaan. Dalam hal ini saya menyukai perumpamaan segitiga eksposur seperti halnya sebuah keran air.

·         -Shutter speed bagi saya adalah berapa lama kita membuka keran.
·         -Aperture adalah  seberapa lebar kita membuka keran.
·          -  ISO adalah kuatnya dorongan air dari PDAM.

·         Sementara air yang mengalir melalui keran tersebut adalah cahaya yang diterima sensor kamera.
Tentu bukan perumpamaan yang sempurna, tapi paling tidak kita mendapat ide dasarnya. sebagaimana anda lihat, kalau exposure adalah jumlah air yang keluar dari keran, berarti kita bisa mengubah nilai exposure dengan mengubah salah satu atau kombinasi ketiga elemen penyusunnya.

Anda mengubah shutter speed, berarti mengubah berapa lama keran air terbuka. Mengubah Aperture berarti mengubah seberapa besar debit airnya, sementara mengubah seberapa kuat dorongan air dari sumbernya. Mengubah ISO di kamera berarti mengubah besar kecilnya tekanan air.